Euro-Office: Alternatif Open Source Eropa untuk Microsoft Office dan Google Docs
Taufiq M
Taufiq M

Dipublikasikan 31 Mei 2026

Euro-Office: Alternatif Open Source Eropa untuk Microsoft Office dan Google Docs

Eropa semakin agresif dalam membangun infrastruktur digital yang bebas dari dominasi vendor Amerika Serikat. Euro-Office, suite produktivitas berbasis web yang sepenuhnya open source, akan resmi diluncurkan pada 9 Juni 2026. Menurut laporan dari ZDNet, inisiatif ini digerakkan oleh konsorsium vendor cloud dan kolaborasi Eropa yang bertujuan menawarkan alternatif sovereign untuk Microsoft Office dan Google Docs.

Proyek ini melibatkan nama-nama besar industri IT Eropa seperti Ionos, Nextcloud, EuroStack, XWiki, OpenProject, Open-Xchange, dan Office.eu. Bersama-sama mereka mengembangkan editor web untuk dokumen, spreadsheet, dan presentasi dengan dukungan real-time collaboration dan kompatibilitas penuh dengan format Microsoft Office. Fokus utama adalah pada digital sovereignty, transparansi, dan pengendalian data oleh entitas Eropa.

Bukan LibreOffice, melainkan fork dari OnlyOffice

Salah satu kejutan teknis dari Euro-Office adalah bahwa suite ini bukanlah fork dari LibreOffice seperti yang mungkin diasumsikan dari namanya. Sebaliknya, Euro-Office berdasarkan pada open-source core dari OnlyOffice yang dikembangkan oleh Ascensio System SIA. Meskipun memiliki nama yang mirip dengan OpenOffice, OnlyOffice memiliki codebase yang sepenuhnya berbeda dan dilisensikan di bawah AGPL.

Kontroversi hukum pun muncul ketika Ascensio System SIA menyatakan bahwa kontributor Euro-Office harus memodifikasi user interface dan menambahkan notifikasi di kode serta dokumentasi bahwa Euro-Office merupakan derivative work dari OnlyOffice. Meskipun ada gesekan lisensi, analis industri memperkirakan Euro-Office akan tetap berhasil merilis produknya sesuai jadwal.

Fitur dan kompatibilitas format

Dari sisi fitur, Euro-Office menawarkan editor web-based untuk dokumen, spreadsheet, presentasi, dan PDF. Suite ini mendukung pembuatan, pembukaan, dan pengeditan file dalam format DOCX, XLSX, PPTX, serta format OpenDocument ODT, ODS, dan ODP. Kompatibilitas format ini menjadi krusial untuk memudahkan migrasi pengguna dari ekosistem Microsoft 365.

Kolaborasi real-time menjadi fitur unggulan, di mana multiple user dapat mengedit dokumen, spreadsheet, atau presentasi secara simultan dalam browser. Tools kolaborasi mencakup komentar, track changes, document comparison, dan version history. Antarmuka pengguna mengadopsi ribbon-style toolbar yang familiar bagi pengguna Microsoft Office, dengan tata letak yang dirancang untuk meminimalkan learning curve saat migrasi.

Integrasi dengan ekosistem Eropa

Strategi distribusi Euro-Office tidak berdiri sendiri sebagai aplikasi desktop atau web standalone. Sebaliknya, suite ini didesain sebagai komponen terintegrasi di dalam ekosistem kolaborasi Eropa yang sudah ada. Pada peluncuran, Euro-Office akan tersedia sebagai integrasi office di Nextcloud Hub 26 Spring release, di mana ia berfungsi sebagai in-browser editor untuk dokumen yang dibagikan.

Pelanggan managed Nextcloud dari Ionos dapat menginstal Euro-Office segera setelah 9 Juni, dengan rencana integrasi lebih luas ke dalam Nextcloud Workspace pada musim panas ini. XWiki berencana mengintegrasikan Euro-Office pada kuartal keempat 2026, sementara Office.eu juga telah berkomitmen untuk meluncurkannya. Rencana ini menempatkan suite office yang dikelola Eropa di hadapan berbagai pengguna enterprise dan sektor publik menjelang akhir tahun.

Achim Weiss, CEO Ionos, menjelaskan bahwa dengan perkembangan geopolitik dalam setahun terakhir, kebutuhan akan solusi office sovereign yang reliable, fully Microsoft-compatible, dan mudah digunakan semakin jelas. Frank Karlitschek, CEO Nextcloud, menambahkan bahwa Eropa telah memiliki building blocks teknis selama bertahun-tahun. Yang kurang adalah inisiatif untuk menyatukannya menjadi solusi yang komprehensif.

Implikasi untuk pasar global

Meskipun messaging Euro-Office erat terkait dengan narasi digital sovereignty Uni Eropa, kodenya terbuka untuk kontribusi dari seluruh dunia dan dapat di-deploy secara global. Bagi negara-negara di luar Eropa yang memiliki kekhawatiran serupa tentang kedaulatan data dan ketergantungan pada vendor SaaS Amerika, Euro-Office bisa menjadi alternatif yang menarik.

Dalam konteks Indonesia, inisiatif semacam ini menggarisbawahi pentingnya memiliki infrastruktur digital yang dikelola dalam negeri atau setidaknya tidak sepenuhnya bergantung pada platform asing. Seiring dengan perkembangan AI di tanah air, pemerintah dan industri dapat mengadopsi atau menyesuaikan framework G7 untuk memastikan bahwa investasi dalam AI open source didasarkan pada standar transparansi yang jelas dan dapat diverifikasi.

Sumber utama artikel ini berasal dari ZDNet.