Raka Pradana
Raka Pradana

Dipublikasikan 1 Februari 2026

Mengenal Sisi Gelap Dunia Keamanan Siber: Hal Dasar yang Perlu Anda Ketahui

Semakin canggihnya cybercrime bikin aparat hukum di seluruh dunia makin serius buat ngejar para pelaku kejahatan digital. Walaupun banyak operasi besar diumumkan ke publik, ternyata belum ada gambaran utuh soal gimana sebenarnya law enforcement global menangani serangan siber. Data publik masih tercecer di mana-mana, dari laporan tiap lembaga, yurisdiksi berbeda-beda, sampe format pemberitaan yang nggak seragam. Jadinya, pengetahuan kita soal apa aja yang dilawan sampai sekarang masih potongan-potongan.

Big Picture: Dataset Operasi Cybercrime Global

Nah, buat nutup kekosongan ini, Orange Cyberdefense ngerilis dataset berisi 418 aksi resmi law enforcement dari 2021 sampai pertengahan 2025. Tim intelijensi mereka ngumpulin tiap aksi dari pengumuman resmi dan media, lalu diverifikasi dan diperkaya infonya biar lengkap—dari jenis kejahatan, respons hukum, sampe detail pelaku kalo tersedia.

Fokus utama dari data ini ke jenis tindakan hukum yang diambil: kayak penangkapan (arrest), ekstradisi, penutupan platform ilegal (takedown), penyitaan aset digital (seizure), atau sanksi (sanction). Semua juga dicatat soal tipe kejahatan sibernya—mulai dari hacking, malware, DDoS, cyber extortion, dan lain-lain.

Tipe Kejahatan Siber yang Paling Sering Diburu

Berdasarkan analisa Orange, tiga kejahatan paling sering jadi target polisi cyber adalah:

  1. Cyber Extortion (termasuk ransomware) – jadi kasus paling banyak digarap.
  2. Penyebaran atau instalasi malware.
  3. Akses ilegal atau hacking.

Ada juga aksi terhadap cyber espionage, infrastruktur kriminal (kayak marketplace dark web), penipuan finansial, pencurian data, penyalahgunaan cryptocurrency sampai money laundering online. Intinya, selain ngejar pelaku utama, polisi juga gencar menarget infrastruktur pendukung kejahatan digital.

Respons & Strategi Law Enforcement: Nggak Cuma Tangkap

Dari semua kasus yang di-tracking, bentuk reaksi polisi siber paling sering berupa penangkapan (29%). Disusul dengan takedown (17%) dan pelimpahan perkara ke pengadilan (14%). Ada juga vonis, sanksi, dan penyitaan aset biar efek jera maksimal. Penggunaan sanksi makin naik sekarang, nunjukin kalau alat non-hukum (diplomatik, ekonomi) udah mulai dipakai juga.

  • Penangkapan mendominasi hampir semua jenis kejahatan digital.
  • Takedown efektif buat membongkar platform dark web dan jaringan malware.
  • Sanksi diprioritaskan untuk kasus espionase terkait negara.

Aksi kayak investigasi, pengumuman buronan, atau ekstradisi juga sering muncul, menandakan kerjasama lintas negara dan koordinasi serius antara aparat hukum global.

Siapa Pemain Utama di Law Enforcement?

Amerika Serikat jadi yang paling menonjol, terlibat di hampir 45% operasi. Negara Eropa macam Jerman, Inggris, Belanda, Spanyol, Prancis, sampe Ukraina, juga selalu masuk jajaran top, apalagi lewat kolaborasi Europol dan Eurojust.

Yang menarik, institusi swasta mulai sering disebut membantu operasi polisi—menandai kolaborasi publik-swasta yang makin krusial. Bahkan, 74 perusahaan swasta masuk sebagai pendukung utama penanganan cybercrime.

Profil Pelaku Cybercrime: Usia, Tren, dan Negara Asal

Dari 193 pelaku yang datanya valid, mayoritas ada di usia 25-44 tahun (67%), dengan prapemula (12-17 tahun) atau senior (55+) jumlahnya minim—kemungkinan karena banyak kasus remaja nggak boleh diumumkan secara hukum.

  • Usia 18-24: Paling suka eksplorasi, banyak yang hacking atau jual data curian.
  • Usia 25-34: Mulai geser fokus ke cyber extortion dan penipuan digital, cari cuan.
  • Usia 35-44: Kejahatan makin kompleks—dari cyber extortion, espionage, sampe money laundering.

Soal kewarganegaraan, pelaku cybercrime tersebar dari 64 negara. Rusia paling dominan, lalu Amerika, China, Ukraina, Korea Utara. Meski Amerika kelihatan tinggi, itu juga akibat bias pelaporan (kasus di AS sering diumumkan terbuka).

Kesimpulan: Perang melawan Cybercrime Semakin Global

Data ini nunjukkin kalau cybercrime makin jadi isu internasional. Pelaku utamanya kebanyakan cowok usia produktif, dengan tren kejahatan beragam—dari yang iseng hacking sampai serius main di ransomware dan pencucian uang pakai teknologi digital.

Aparat hukum, dari FBI, DOJ, Europol, hingga tim dari Ukraina, Rusia, sampe Singapura, bareng-bareng ngerespons dan berinovasi dalam ngelawan kejahatan cyber. Bonus insight: Sekarang, kerjasama sama perusahaan swasta udah kayak jadi standar buat blokir aksi cybercrime besar.

Penasaran sama insight keamanan terbaru dan prediksi tren digital 2026? Download Security Navigator 2026 buat update soal cyber extortion, generative AI, post-quantum cryptography, sampe statistik CyberSOC!